Rahasia Qalbu

on Wednesday, June 20, 2012

Picture Rahasia Qalbu


Definisi Nafas, Roh, Qalbu (Hati) dan Akal

Sungguh amat sedikit kalangan ‘ulama terkemuka yang mengetahui secara mendetail tentang definisi ini, baik dalam pengertian, perbedaan serta batas-batasnya. Maka kami memberinya judul rahasia qalbu.

Kesalahan pada umumnya terjadi karena kebodohan akan arti nama-nama tersebut, sebab satu sama lain agaknya amat sulit dan rumit untuk di bedakan. Karena itu disini akan diuraikan lebih dahulu akan pengertian nama-nama tersebut.

a. Definisi Qalbu (hati). Perkataan ini mengandung dua pengertian:

Pengertian pertama adalah daging yang berbentuk buah shanaubar (karena itu dinamakan hati sanubari), terletak pada pinggir dada yang kiri, yaitu daging khusus (lahm mahshus). Di dalamnya terdapat lubang. Dalam lubang itu terdapat darah hitam. Itulah sumber nyawa dan tambangnya.

Kami tidak bermaksud menguraikan bentuk tata kerjanya, karena itu adalah menyangkut aspek segi kedokteran, dan tiada kaitannya dengan masalah-masalah agama.

Hati itu terdapat pula pada hewan, bahkan pula pada orang yang sudah mati. Bila kami menyebutkan secara mutlak perkataan “hati” dalam Kitab ini, maka yang kami maksudkan tidaklah demikian, sebab itu hanyalah sekerat daging yang tiada nilainya.

Ia termasuk sebagian dari alam yang dapat diperintah dan dilihat (‘alamul mulki wasy syahadah) dan hewan pun dapat mengetahuinya dengan panca indera penglihatan, apa lagi manusia.

Pengertian kedua, ialah yang halus (lathifah), ketuhanan (rabbaniyah) dan kerohanian (ruhaniyah). Dengan hati yang bertubuh (al qalb al-jismani) itu, dia berkaitan erat.

Yang tergolong lathif (halus) adalah hakekat manusia. Dirinyalah yang merasa, mengetahui dan mengenal dari segi sifat kemanusiaan. Dirinyalah yang dituju dalam pembicaraan (mukhathab), yang disiksa, dicaci dan dicari. Ia berkaitan erat dengan hati yang bertubuh.

Pada kebanyakan akal manusia, heran untuk mengetahui hakekat hubungannya, karena hubungan itu  menyerupai hubungan sifat (‘aradh) dengan tubuh (jisim), hubungan antara sifat dengan yang disifati (maushuf), atau hubungan antara pemakai alat dengan alatnya, juga boleh dimisalkan hubungan antara orang yang bertempat dengan tempatnya.

Membahas yang demikian itu, termasuk apa yang kami takuti, karena mengandung dua pengertian :

Pertama : bahwa yang demikian itu ada kaitannya dengan ‘ilmu mukasyafah, sedangkan maksud pembahasan dalam Kitab ini adalah diseputar “ ‘ilmu mu’amalah. “

Kedua : mencari hakekatnya berarti secara terpaksa membicarakan rahasia roh (nyawa) yang tidak dibicarakan oleh Rasulullah saw. Karena itu adalah wajar bila tidak ada orang yang mempersoalkannya.

Bila kjami menyebutnya perkataan “hati” dalam Kitab ini, maka yang dimaksud adalah yang halus (lathifah). Maksudnya ialah mengemukakan sifat dan keadaannya, dan sama sekali tidak menyebutkan hakekat pada zatnya.

Demikian pula bahwa ‘ilmu mu’amalah terbatas pada pembahasan ruang lingkup (tutelage) sifat-sifat dan keadaannya, dan bukan hakekatnya.

(Sumber : Al-Ghazali Dalam Kitab Rahasia Keajaiban Hati)

0 comments:

Post a Comment